Sanghyangseri.co.id – Di balik keberhasilan misi luar angkasa seperti Apollo 17 hingga program Artemis, terdapat kontribusi penting dari sekelompok pria tuna rungu yang jarang diketahui publik. Mereka dikenal sebagai “Gallaudet Eleven”, yakni 11 relawan yang berperan besar dalam riset awal NASA terkait kondisi tubuh manusia di lingkungan tanpa gravitasi.
Pada era 1950-an, NASA bersama Sekolah Kedokteran Penerbangan Angkatan Laut Amerika Serikat melakukan penelitian intensif untuk memahami bagaimana tubuh manusia bereaksi di luar angkasa. Saat itu, tantangan utama adalah efek mabuk perjalanan yang dialami hampir semua kandidat astronaut dalam simulasi ekstrem.
Untuk mengatasi masalah tersebut, para peneliti merekrut 11 pria tuna rungu dari Gallaudet College (kini Gallaudet University). Mereka mengalami gangguan pada sistem vestibular di telinga bagian dalam akibat penyakit di masa kecil, sehingga membuat mereka lebih tahan terhadap mabuk gerak. Kondisi unik ini justru menjadi keunggulan dalam eksperimen luar angkasa.
Selama kurang lebih satu dekade, kelompok ini menjalani berbagai uji coba ekstrem. Mulai dari tinggal di ruangan berputar selama berhari-hari, mengikuti penerbangan tanpa gravitasi menggunakan pesawat khusus, hingga menjalani simulasi di laut dengan gelombang tinggi.
Hasil dari penelitian tersebut memberikan wawasan penting tentang bagaimana tubuh manusia beradaptasi ketika sinyal keseimbangan dari telinga tidak berfungsi seperti biasa—kondisi yang mirip dengan pengalaman di luar angkasa. Pengetahuan ini kemudian menjadi dasar dalam pengembangan sistem pelatihan dan kesiapan astronaut.
Kontribusi Gallaudet Eleven membantu NASA memahami lebih dalam tentang mabuk perjalanan, orientasi tubuh, serta respons fisiologis manusia terhadap lingkungan tanpa gravitasi. Tanpa temuan tersebut, misi bersejarah seperti Apollo 17—yang menjadi perjalanan terakhir manusia ke Bulan pada 1972—mungkin tidak akan berjalan sukses.
Kini, warisan penelitian mereka juga menjadi bagian penting dalam program Artemis, yang bertujuan mengembalikan manusia ke Bulan setelah lebih dari lima dekade.
Kisah ini menunjukkan bahwa kemajuan eksplorasi luar angkasa tidak hanya bergantung pada astronaut atau teknologi canggih, tetapi juga pada kontribusi individu-individu yang bekerja di balik layar—termasuk mereka yang sering luput dari sorotan.






