Sanghyangseri.co.id – Pemerintah Peru menghadapi gejolak politik setelah Menteri Pertahanan dan Menteri Luar Negeri memutuskan mundur dari jabatannya. Keputusan tersebut dipicu oleh langkah presiden sementara yang menunda pembelian jet tempur F-16 dari Amerika Serikat.
Presiden interim, Jose Maria Balcazar, memilih menangguhkan rencana akuisisi pesawat tempur hingga pemerintahan baru terbentuk. Ia menilai keputusan strategis bernilai besar sebaiknya diambil oleh pemimpin yang memiliki legitimasi penuh setelah masa transisi berakhir.
Sebelumnya, Peru telah merencanakan modernisasi armada udara militernya yang terdiri dari pesawat lama seperti Mirage 2000 dan MiG-29. Program tersebut mencakup pembelian hingga 24 unit jet tempur, yang akan dilakukan secara bertahap.
Dalam proses pengadaan, perusahaan asal Amerika Serikat, Lockheed Martin, menjadi salah satu kandidat utama. Pemerintah AS bahkan telah menyetujui penjualan F-16 lengkap dengan dukungan teknis, dengan nilai kontrak mencapai lebih dari 3 miliar dolar AS.
Namun, rencana penandatanganan kontrak secara mendadak dibatalkan hanya beberapa jam sebelum pelaksanaan. Langkah ini disebut berkaitan dengan kekhawatiran bahwa pemerintah sementara tidak seharusnya mengikat kebijakan besar bagi pemerintahan berikutnya.
Di tengah polemik tersebut, muncul pernyataan berbeda dari pejabat terkait. Kedua menteri yang mengundurkan diri mengklaim bahwa kontrak pembelian jet tempur sebenarnya sudah ditandatangani sebelumnya. Hal ini memicu kebingungan dan memperuncing konflik internal di pemerintahan.
Situasi semakin memanas setelah adanya reaksi dari pihak Amerika Serikat. Washington memperingatkan akan mengambil langkah jika proses negosiasi dinilai tidak dilakukan dengan itikad baik.
Kasus ini mencerminkan ketegangan antara kepentingan politik domestik dan kerja sama pertahanan internasional, sekaligus menyoroti tantangan yang dihadapi pemerintah transisi dalam mengambil keputusan strategis jangka panjang.






