Sanghyangseri.co.id – Juru bicara mantan Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla (JK), memberikan klarifikasi terkait tudingan yang menyebut pernyataan JK disampaikan dengan emosi. Pernyataan tersebut sebelumnya dilontarkan oleh pihak Partai Solidaritas Indonesia (PSI).
Husein Abdullah selaku juru bicara menegaskan bahwa nada tinggi yang digunakan JK bukan karena emosi, melainkan sebagai respons terhadap narasi yang berkembang di kalangan pendukung Presiden Joko Widodo. Ia menyebut ada anggapan yang menyudutkan JK seolah tidak tahu berterima kasih.
Menurut Husein, tuduhan tersebut mendorong JK untuk menjelaskan kembali perannya dalam perjalanan politik Jokowi sejak awal kemunculannya di panggung nasional. Ia mengatakan bahwa JK memiliki kontribusi penting dalam membuka jalan bagi Jokowi hingga akhirnya bisa maju sebagai tokoh nasional.
Ia juga mengungkapkan bahwa JK berperan dalam mempertemukan Jokowi dengan Megawati Soekarnoputri, yang kemudian menjadi langkah awal pencalonan Jokowi sebagai Gubernur DKI Jakarta. Dari titik tersebut, karier politik Jokowi terus berkembang hingga akhirnya mencalonkan diri sebagai presiden.
Lebih lanjut, Husein menjelaskan bahwa saat pencalonan presiden, terdapat syarat penting dari Megawati, yakni Jokowi harus didampingi oleh JK sebagai calon wakil presiden. Hal ini didasarkan pada pertimbangan pengalaman JK yang dinilai dapat melengkapi Jokowi saat itu.
Ia menekankan bahwa keputusan duet Jokowi-JK bukan berasal dari keinginan Jokowi semata, melainkan atas permintaan langsung dari Megawati. Bahkan disebutkan bahwa pencalonan tersebut tidak akan berjalan tanpa pasangan tersebut.
Dengan latar belakang tersebut, Husein mempertanyakan narasi yang menyebut JK memiliki utang budi kepada Jokowi. Ia justru menilai hubungan keduanya bersifat timbal balik, bahkan dalam sejumlah momen penting pemerintahan, JK disebut turut berperan besar dalam menjaga stabilitas politik.
Menurutnya, kontribusi JK juga berpengaruh dalam kemenangan pada pemilihan presiden, mengingat saat itu pasangan lawan memiliki dukungan koalisi yang kuat di parlemen.
Pernyataan ini sekaligus menjadi penegasan bahwa gaya bicara JK yang terdengar tegas bukanlah bentuk emosi, melainkan respons terhadap isu yang berkembang di ruang publik.






