Sanghyangseri.co.id – Kenaikan tajam harga bahan bakar minyak (BBM) jenis solar non-subsidi diperkirakan akan berdampak langsung pada pasar otomotif, khususnya segmen mobil diesel bekas. Sejumlah pelaku industri menilai penjualan kendaraan diesel berpotensi mengalami penurunan signifikan.
Bahkan, penurunan tersebut diprediksi bisa mencapai hingga 40 persen, seiring meningkatnya biaya operasional kendaraan berbahan bakar solar.
Harga BBM Diesel Melonjak Tajam
Penyesuaian harga BBM non-subsidi yang berlaku sejak pertengahan April 2026 membuat harga solar berkualitas tinggi naik drastis. Untuk jenis Dexlite misalnya, harganya kini menyentuh sekitar Rp23.600 per liter, sementara Pertamina Dex mencapai Rp23.900 per liter.
Kenaikan ini tergolong signifikan karena sebelumnya harga kedua jenis BBM tersebut berada di kisaran Rp14 ribuan per liter.
Biaya Operasional Jadi Beban Utama
Lonjakan harga solar membuat biaya penggunaan mobil diesel ikut meningkat tajam. Kondisi ini menjadi pertimbangan utama bagi konsumen, terutama di pasar mobil bekas yang sangat sensitif terhadap biaya harian.
Akibatnya, keunggulan mobil diesel yang selama ini dikenal irit bahan bakar mulai berkurang. Bahkan, selisih biaya dengan mobil bensin kini semakin tipis.
Minat Konsumen Mulai Bergeser
Kenaikan harga BBM ini diperkirakan akan mengubah perilaku konsumen. Banyak calon pembeli yang sebelumnya tertarik pada mobil diesel kini mulai mempertimbangkan alternatif lain, seperti mobil bensin atau kendaraan elektrifikasi.
Pelaku usaha mobil bekas juga mulai merasakan dampaknya, dengan penurunan minat terhadap unit diesel dibandingkan sebelumnya.
Pasar Mobil Diesel Bekas Tertekan
Tekanan terbesar diprediksi terjadi di pasar mobil bekas. Segmen ini sangat bergantung pada efisiensi biaya penggunaan, sehingga kenaikan harga BBM langsung memengaruhi keputusan pembelian.
Jika tren kenaikan harga solar terus berlanjut, bukan tidak mungkin harga jual mobil diesel bekas ikut terkoreksi karena turunnya permintaan.
Dampak Lebih Luas ke Industri Otomotif
Tidak hanya pasar mobil bekas, kenaikan harga BBM diesel juga berdampak pada penjualan mobil baru. Kendaraan bermesin diesel, terutama di segmen SUV dan kendaraan niaga, diperkirakan akan mengalami tekanan.
Kondisi ini menunjukkan bahwa kebijakan harga energi memiliki pengaruh besar terhadap arah pasar otomotif di Indonesia.
Kesimpulan
Kenaikan harga solar non-subsidi menjadi faktor penting yang memengaruhi pasar mobil diesel, terutama di segmen bekas. Dengan biaya operasional yang semakin tinggi, minat konsumen diprediksi menurun drastis hingga 40 persen.
Jika kondisi ini berlanjut, pasar mobil diesel bisa mengalami perlambatan, sekaligus membuka peluang bagi kendaraan berbahan bakar alternatif untuk semakin diminati.






