Sanghyangseri.co.id – Sebuah riset terbaru menemukan bahwa sejumlah danau dan sungai berair gelap di kawasan Cekungan Kongo ternyata melepaskan karbon berusia ribuan tahun ke atmosfer. Temuan ini mengejutkan para ilmuwan karena sebelumnya karbon tersebut diyakini tersimpan aman di dalam lapisan gambut.
Hasil penelitian tersebut menantang pandangan lama yang menganggap gambut tropis berfungsi sebagai penyerap karbon yang stabil. Kini, para peneliti melihat adanya kemungkinan bahwa ekosistem tersebut justru bisa berubah menjadi sumber emisi karbon dalam jumlah besar.
Studi yang dipublikasikan di jurnal ilmiah mengungkap bahwa karbon dioksida yang dilepaskan dari perairan tersebut sebagian berasal dari material organik kuno yang berusia antara ribuan tahun. Temuan ini diperoleh melalui serangkaian penelitian lapangan yang dilakukan dalam beberapa tahun terakhir di wilayah rawa dan hutan luas di Republik Demokratik Kongo.
Fokus penelitian berada di kawasan Cuvette Centrale, yang dikenal sebagai salah satu wilayah dengan simpanan gambut tropis terbesar di dunia. Di area ini terdapat beberapa perairan utama seperti Danau Mai Ndombe, Danau Tumba, serta Sungai Ruki yang terhubung ke Sungai Kongo.
Air di wilayah tersebut berwarna gelap karena mengandung banyak sisa tumbuhan yang terurai, serta karbon organik terlarut. Kondisi ini menyebabkan tingginya kadar karbon dioksida di dalam air, yang kemudian dilepaskan ke atmosfer dalam jumlah signifikan.
Peneliti awalnya mengira karbon tersebut berasal dari sumber modern, seperti vegetasi yang baru membusuk. Namun, hasil analisis laboratorium menunjukkan bahwa sebagian besar karbon tersebut ternyata berasal dari lapisan gambut purba.
Diduga, mikroorganisme di lingkungan tersebut berperan dalam menguraikan material gambut menjadi gas seperti karbon dioksida dan metana, yang kemudian masuk ke perairan sebelum akhirnya terlepas ke udara.
Kawasan Cuvette Centrale sendiri diperkirakan menyimpan cadangan karbon dalam jumlah sangat besar, bahkan mencapai puluhan miliar ton secara global. Karena itu, perubahan kecil pada sistem ini dapat berdampak besar terhadap iklim dunia.
Para ilmuwan menilai bahwa pelepasan karbon ini bisa jadi merupakan proses alami dalam pembentukan ekosistem. Namun, mereka juga mengingatkan bahwa perubahan iklim—seperti peningkatan suhu dan kekeringan—berpotensi mempercepat pelepasan karbon dan memicu kondisi yang lebih tidak stabil.
Ke depan, penelitian lanjutan akan dilakukan untuk memahami lebih dalam proses pelepasan karbon tersebut, serta menilai apakah fenomena ini merupakan bagian dari siklus alami atau tanda awal gangguan besar pada sistem penyimpanan karbon global.






