Sanghyangseri.co.id – Polisi mengungkap latar belakang pembunuhan terhadap seorang perempuan berusia 19 tahun yang jasadnya ditemukan di dalam boks kontainer di kawasan Medan. Kasus ini melibatkan dua pelaku, dengan satu orang sebagai pelaku utama dan satu lainnya membantu membuang jasad korban.
Kapolrestabes Medan menjelaskan bahwa motif utama pembunuhan dipicu oleh emosi pelaku. Ia merasa tersinggung dan sakit hati karena korban menolak permintaannya untuk melakukan hubungan seksual yang dianggap tidak wajar.
Sebelumnya, pelaku dan korban diketahui berkenalan melalui aplikasi kencan. Keduanya kemudian bertemu dan sempat melakukan hubungan intim di sebuah hotel. Namun, saat pelaku meminta melakukan hubungan seksual dengan cara berbeda, korban menolak. Penolakan tersebut memicu kemarahan pelaku.
Dalam kondisi emosi, pelaku kemudian melakukan kekerasan dengan cara mencekik dan membekap korban menggunakan kain hingga korban tak berdaya. Aksi tersebut menyebabkan korban meninggal dunia, diperkuat dengan temuan adanya luka benturan di bagian kepala serta tanda-tanda kekerasan di tubuh korban.
Polisi juga mengungkap bahwa pelaku sempat melakukan tindakan seksual saat korban dalam kondisi kritis. Selain itu, setelah korban meninggal, pelaku mengambil sejumlah barang milik korban seperti ponsel dan perhiasan, diduga untuk menghilangkan jejak sekaligus mendapatkan keuntungan.
Pembuangan Jasad Korban
Setelah melakukan pembunuhan, pelaku utama menghubungi temannya dan meminta bantuan untuk membuang jasad korban. Teman tersebut dijanjikan imbalan berupa pembayaran biaya kos agar bersedia membantu.
Jasad korban kemudian dibungkus dan dimasukkan ke dalam boks kontainer sebelum akhirnya dibuang ke area pinggir sungai di kawasan Medan Denai.
Fakta Tambahan dari Penyelidikan
Dari hasil penyelidikan, diketahui bahwa tindakan pelaku dilakukan secara spontan tanpa perencanaan matang. Selain itu, pelaku disebut memiliki dorongan atau obsesi tertentu yang dipengaruhi oleh konten pornografi yang sering ia konsumsi.
Pemeriksaan forensik juga menunjukkan adanya luka-luka di tubuh korban yang mengindikasikan perlawanan sebelum meninggal dunia, serta tanda kekerasan di beberapa bagian tubuh.
Kesimpulan
Secara keseluruhan, kasus ini berawal dari pertemuan antara pelaku dan korban yang kemudian berujung pada konflik akibat penolakan. Emosi pelaku yang tidak terkendali menjadi pemicu utama terjadinya pembunuhan, yang kemudian diikuti dengan upaya menghilangkan jejak dengan membuang jasad korban.






