Sanghyangseri.co.id – Jumlah korban tewas akibat serangan Israel di Lebanon terus meningkat tajam sejak konflik memanas pada awal Maret 2026. Berdasarkan data terbaru dari otoritas kesehatan Lebanon, total korban jiwa kini telah mendekati bahkan menembus angka 2.000 orang.
Lonjakan korban terjadi setelah rangkaian serangan udara besar-besaran yang dilancarkan Israel ke berbagai wilayah, termasuk Beirut, Lembah Bekaa, dan kawasan selatan Lebanon. Serangan tersebut disebut menargetkan posisi kelompok Hizbullah, namun dampaknya juga dirasakan luas oleh warga sipil.

Dalam salah satu serangan paling mematikan, ratusan orang dilaporkan tewas hanya dalam satu hari. Pemerintah Lebanon bahkan menetapkan hari berkabung nasional sebagai bentuk penghormatan terhadap para korban.
Secara keseluruhan, sejak konflik pecah pada 2 Maret 2026, jumlah korban terus bertambah seiring intensitas serangan yang belum mereda. Data terakhir menunjukkan angka korban telah mencapai sekitar 1.900 hingga lebih dari 1.950 orang, dengan ribuan lainnya mengalami luka-luka.
Pihak berwenang menyebut angka tersebut masih bersifat sementara. Proses evakuasi dan pencarian korban di bawah reruntuhan bangunan masih berlangsung, sehingga jumlah korban diperkirakan masih bisa meningkat.
Selain korban jiwa, serangan ini juga menyebabkan kerusakan besar pada infrastruktur dan memicu krisis kemanusiaan. Banyak warga kehilangan tempat tinggal dan terpaksa mengungsi ke daerah yang lebih aman.
Di sisi lain, situasi ini turut memengaruhi dinamika politik dan keamanan kawasan. Konflik di Lebanon menjadi salah satu faktor yang berpotensi mengganggu upaya diplomasi internasional, termasuk perundingan damai yang melibatkan negara-negara besar.
Hingga kini, belum ada tanda-tanda meredanya konflik secara signifikan. Komunitas internasional terus mendesak agar kekerasan dihentikan guna mencegah bertambahnya korban dan memperburuk krisis di kawasan Timur Tengah.






