Sanghyangseri.co.id – Pemerintah Jepang memutuskan untuk mengeluarkan sekitar 80 juta barel minyak dari cadangan strategis nasional sebagai langkah antisipasi terhadap potensi krisis energi global.
Kebijakan ini diambil di tengah meningkatnya konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat. Situasi tersebut dikhawatirkan dapat mengganggu jalur distribusi minyak dunia, terutama di Selat Hormuz yang menjadi rute vital pengiriman energi.
Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, menyatakan bahwa pelepasan cadangan minyak akan dilakukan secara bertahap mulai akhir Maret. Minyak tersebut akan disalurkan ke kilang domestik guna menjaga stabilitas pasokan energi dalam negeri.
Jumlah yang dilepas ini setara dengan sekitar 45 hari kebutuhan konsumsi nasional, sekaligus menjadi yang terbesar sepanjang sejarah Jepang. Angka tersebut bahkan melampaui pelepasan cadangan saat krisis besar sebelumnya, termasuk pasca bencana Fukushima 2011.
Selain melepas cadangan, pemerintah Jepang juga menggelontorkan subsidi untuk menekan harga bahan bakar agar tidak melonjak terlalu tinggi. Langkah ini dilakukan setelah harga bensin di dalam negeri sempat mencapai rekor tertinggi.
Jepang diketahui sangat bergantung pada impor minyak dari Timur Tengah, dengan porsi lebih dari 90 persen. Karena itu, setiap gangguan di kawasan tersebut berpotensi langsung memengaruhi ketahanan energi negara tersebut.
Pemerintah juga mengimbau masyarakat agar tidak melakukan pembelian berlebihan (panic buying), meskipun kekhawatiran terhadap ketersediaan barang kebutuhan mulai muncul di tengah situasi global yang tidak menentu.
Langkah Jepang ini menjadi sinyal kuat bahwa dampak konflik geopolitik mulai merambah sektor energi global dan berpotensi memicu ketidakstabilan ekonomi di berbagai negara.






