Sanghyangseri.co.id – Israel melancarkan serangan besar ke Lebanon pada Rabu (8/4), menargetkan berbagai titik strategis yang diduga menjadi basis Hizbullah. Serangan ini menjadi salah satu yang paling intens sejak konflik terbaru di kawasan Timur Tengah meningkat.
Menariknya, operasi militer tersebut terjadi saat gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran tengah berlangsung selama dua minggu. Kondisi ini memicu kontroversi karena Lebanon disebut menganggap dirinya termasuk dalam kesepakatan tersebut.
Korban Jiwa dan Dampak Serangan
Menurut data resmi Kementerian Kesehatan Lebanon, sedikitnya 112 orang tewas dan 837 lainnya mengalami luka-luka akibat serangan udara tersebut.
Serangan menghantam lebih dari 100 titik yang diduga sebagai pusat komando Hizbullah di berbagai wilayah, termasuk Beirut dan Lebanon selatan.
Beirut Lumpuh dan Rumah Sakit Kewalahan
Di Beirut, kondisi darurat tak terhindarkan. Minimnya armada ambulans membuat warga harus mengevakuasi korban secara mandiri.
Rumah sakit dipenuhi korban luka, sementara tenaga medis kekurangan suplai darah. Para dokter dari berbagai bidang diminta turun langsung untuk membantu penanganan darurat.
Tuduhan Pelanggaran Gencatan Senjata
Hizbullah menyatakan telah mematuhi gencatan senjata AS-Iran. Namun, mereka menilai Israel justru melanggar kesepakatan dengan melakukan serangan besar-besaran.
Ketegangan ini memperburuk situasi keamanan di kawasan dan berpotensi memicu eskalasi konflik yang lebih luas.
Total Korban Konflik Meningkat
Sejak konflik meningkat, jumlah korban tewas di Lebanon dilaporkan telah mencapai sekitar 1.500 orang, termasuk warga sipil seperti anak-anak dan perempuan.






