Sanghyangseri.co.id – Otoritas Israel dilaporkan tidak mengizinkan pelaksanaan salat Idul Fitri di kompleks Masjid Al-Aqsa pada tahun ini. Kebijakan tersebut menjadi sorotan karena disebut sebagai pertama kalinya sejak 1967 umat Muslim tidak dapat menunaikan salat Id di lokasi tersebut.
Larangan ini dikaitkan dengan alasan keamanan di tengah meningkatnya ketegangan kawasan, termasuk konflik yang melibatkan Israel dan Iran. Sejak akhir Februari, akses ke kawasan masjid memang telah dibatasi ketat, sehingga aktivitas ibadah selama Ramadan juga terdampak.
Akibat penutupan tersebut, banyak warga Palestina tidak dapat memasuki area masjid. Mereka akhirnya melaksanakan salat di sekitar gerbang Kota Tua Yerusalem, meski tetap berada di bawah pengawasan ketat aparat keamanan.
Situasi di lapangan dilaporkan cukup tegang. Aparat Israel disebut membubarkan kerumunan jemaah yang mencoba berkumpul di sekitar lokasi, bahkan menggunakan berbagai tindakan pengendalian massa untuk mencegah akses ke area tersebut.
Kondisi ini membuat suasana Idul Fitri di Yerusalem Timur terasa berbeda dari biasanya. Kawasan yang umumnya ramai menjelang hari raya justru tampak sepi karena pembatasan aktivitas, termasuk larangan membuka sebagian besar toko milik warga Palestina.
Kebijakan tersebut menuai kecaman dari berbagai pihak internasional, termasuk organisasi negara-negara Arab dan Islam. Mereka menilai penutupan tempat ibadah tersebut sebagai pelanggaran terhadap kebebasan beragama serta berpotensi memperburuk ketegangan di kawasan.
Masjid Al-Aqsa sendiri merupakan salah satu situs suci bagi umat Islam dan memiliki nilai historis serta religius yang sangat tinggi, sehingga setiap pembatasan akses di kawasan ini kerap memicu perhatian global.






