Sanghyangseri.co.id – Kabar duka datang dari dunia medis. Seorang dokter muda lulusan Universitas Indonesia, Andito Mohammad Wibisono (26), meninggal dunia saat menjalankan tugas sebagai dokter internship di RSUD Cimacan, Cianjur, Jawa Barat.
Kementerian Kesehatan mengonfirmasi bahwa Andito diduga meninggal akibat penyakit campak yang disertai komplikasi serius. Ia mengembuskan napas terakhir pada Kamis (26/3) setelah sempat menjalani perawatan intensif.
Sebelum meninggal, Andito mengalami gejala seperti demam tinggi, ruam merah, hingga sesak napas berat. Hasil investigasi sementara menunjukkan bahwa ia menderita campak dengan komplikasi pneumonia yang memperburuk kondisinya.
Tim medis di RSUD Cimacan telah memberikan penanganan maksimal sesuai prosedur. Bahkan, sempat direncanakan untuk merujuk Andito ke rumah sakit dengan fasilitas lebih lengkap. Namun, kondisi kesehatannya memburuk dengan cepat sebelum proses rujukan dapat dilakukan.
Kementerian Kesehatan bersama dinas kesehatan setempat kini melakukan penyelidikan epidemiologi guna menelusuri sumber penularan serta mencegah penyebaran lebih luas. Langkah ini termasuk pelacakan kontak erat dan pemberian vitamin A di wilayah terdampak.
Pihak Kemenkes juga mengingatkan bahwa campak tidak hanya menyerang anak-anak, tetapi juga dapat berdampak serius pada orang dewasa, terutama bagi mereka yang belum mendapatkan imunisasi lengkap.
Di balik kabar duka ini, Andito dikenal sebagai sosok dokter muda yang cerdas, berdedikasi, dan aktif dalam kegiatan akademik maupun sosial. Ia bahkan memiliki publikasi ilmiah di jurnal internasional serta dikenal dekat dengan rekan dan dosennya.
Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, rekan sejawat, dan dunia medis. Kisah pengabdiannya menjadi pengingat akan pentingnya perlindungan kesehatan bagi tenaga medis, sekaligus kewaspadaan terhadap penyakit menular seperti campak.






