Sanghyangseri.co.id – Pemerintah Australia dan Jepang menyatakan tidak akan mengirim kapal perang ke kawasan Selat Hormuz, meskipun Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, meminta negara-negara sekutu untuk membantu menjaga keamanan jalur pelayaran strategis tersebut.
Permintaan itu muncul di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah setelah konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran memicu gangguan terhadap aktivitas kapal di wilayah tersebut. Jalur laut ini dikenal sebagai salah satu rute paling penting bagi distribusi minyak dunia.
Canberra Pilih Bentuk Dukungan Lain
Pemerintah Australia menegaskan bahwa kontribusinya di kawasan Teluk tidak akan mencakup pengiriman kapal perang. Menteri Transportasi Australia menyatakan negaranya telah menentukan bentuk dukungan yang diberikan, yaitu melalui bantuan pesawat militer untuk mendukung pertahanan di Uni Emirat Arab.
Langkah tersebut diambil karena banyak warga negara Australia berada di kawasan tersebut, sehingga pemerintah lebih fokus pada perlindungan warga dan stabilitas regional daripada mengirim armada laut.
Jepang Juga Belum Berencana Kirim Kapal
Sikap serupa juga disampaikan pemerintah Jepang. Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, mengatakan bahwa negaranya saat ini belum memiliki rencana untuk mengirim kapal pengawal ke Selat Hormuz.
Keputusan tersebut berkaitan dengan berbagai pertimbangan hukum dan politik di dalam negeri Jepang. Konstitusi Jepang yang bersifat pasifis membatasi penggunaan kekuatan militer di luar negeri, sehingga setiap keputusan pengiriman pasukan ke wilayah konflik harus melalui pertimbangan yang sangat ketat.
Jalur Energi Penting Dunia
Selat Hormuz merupakan jalur laut strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab. Sekitar 20 persen perdagangan minyak global melewati wilayah ini setiap hari, sehingga gangguan di kawasan tersebut dapat berdampak besar terhadap pasokan energi dunia dan harga minyak internasional.
Ketegangan meningkat sejak serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari 2026, yang kemudian direspons oleh Iran dengan berbagai tindakan militer di kawasan Teluk. Situasi ini membuat banyak kapal komersial menghentikan pelayaran atau menunda perjalanan melewati Selat Hormuz.
Respons Beragam dari Negara Sekutu
Selain Australia dan Jepang, beberapa negara lain juga menunjukkan sikap hati-hati terhadap permintaan Washington untuk membentuk koalisi militer guna mengamankan jalur pelayaran tersebut. Banyak pemerintah mempertimbangkan risiko eskalasi konflik jika mereka terlibat langsung dalam operasi militer di kawasan tersebut.
Situasi ini menunjukkan bahwa meskipun Amerika Serikat mendorong kerja sama internasional untuk menjaga keamanan Selat Hormuz, tidak semua sekutu bersedia mengambil langkah militer secara langsung






