Sanghyangseri.co.id – Sejumlah video yang diunggah oleh Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, di media sosial X memicu perdebatan publik terkait keasliannya. Hal ini bermula dari spekulasi yang menyebut Netanyahu meninggal dunia, setelah ia sempat tidak aktif selama beberapa hari di tengah konflik dengan Iran.
Untuk menjawab keraguan tersebut, tim jurnalis melakukan analisis terhadap beberapa video menggunakan alat verifikasi digital Image Whisperer. Perangkat ini dirancang untuk membantu mendeteksi kemungkinan manipulasi visual, termasuk penggunaan teknologi kecerdasan buatan (AI), melalui berbagai metode forensik dan pengujian teknis.
Secara keseluruhan, terdapat tujuh video yang dianalisis dari periode 13 hingga 18 Maret 2026. Hasilnya menunjukkan temuan yang beragam—sebagian video diduga kuat merupakan hasil rekayasa AI, sementara lainnya belum dapat dipastikan atau cenderung autentik.
Pada video yang diunggah 13 Maret, muncul dugaan manipulasi setelah terlihat kejanggalan pada jumlah jari tangan. Analisis awal mengindikasikan kemungkinan penggunaan AI cukup tinggi, meskipun pemeriksaan fakta dari pihak lain menyatakan video tersebut sebenarnya asli dan kejanggalan hanya efek visual.
Video berikutnya pada 15 Maret juga menimbulkan kecurigaan. Dalam rekaman tersebut, Netanyahu tampak meminum kopi, namun isi gelas tidak berkurang. Hasil analisis menunjukkan indikasi kuat adanya pola yang biasa ditemukan pada konten AI.
Kemudian, pada video 16 Maret, perhatian tertuju pada momen hilangnya cincin dari jari Netanyahu secara tiba-tiba. Berdasarkan hasil pemeriksaan, video ini juga memiliki tingkat kemungkinan tinggi sebagai hasil manipulasi digital.
Sementara itu, dua video yang diunggah pada 17 Maret menunjukkan hasil berbeda. Salah satunya dinilai kemungkinan besar asli meski tetap memerlukan verifikasi lanjutan, sedangkan video lainnya mengandung indikasi manipulasi pada beberapa bagian visual.
Pada 18 Maret, dua video tambahan kembali dianalisis. Hasilnya tidak memberikan kesimpulan pasti, karena sebagian indikator menunjukkan keaslian, namun terdapat pula tanda-tanda ketidakkonsistenan visual yang memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.
Secara umum, analisis ini menunjukkan bahwa tidak semua video dapat langsung dikategorikan sebagai hasil AI atau sepenuhnya asli. Beberapa di antaranya berada pada area abu-abu yang membutuhkan verifikasi tambahan, baik melalui analisis teknis lanjutan maupun konfirmasi langsung dari sumber terpercaya.
Di tengah maraknya teknologi manipulasi digital, kasus ini mencerminkan semakin sulitnya membedakan konten autentik dengan hasil rekayasa, sehingga penting bagi publik untuk lebih kritis dalam menyikapi informasi visual yang beredar di media sosial.






