Sanghyangseri.co.id – Seorang tokoh masyarakat yang dikenal aktif memperjuangkan hak asasi manusia menjadi korban serangan di kawasan Jakarta Pusat pada Kamis malam (12 Maret 2026). Peristiwa ini memicu reaksi kuat dari pemerintah, aparat penegak hukum, serta kelompok masyarakat sipil di Indonesia.
Kronologi Serangan di Salemba
Korban, yang menjabat sebagai wakil koordinator organisasi pembela hak asasi manusia, diserang oleh pelaku tidak dikenal dengan menyiramkan cairan yang diduga air keras ke arahnya saat ia berada di Jalan Salemba I, kawasan Senen, Jakarta Pusat. Serangan terjadi sekitar pukul 23.30 WIB dan terekam kamera pengawas di lokasi.
Akibat serangan itu, korban mengalami luka bakar pada bagian tubuhnya, termasuk kemungkinan cedera pada mata dan kulit. Ia segera dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan intensif.
Reaksi dari Aparat dan Pemerintah
Polisi Metro Jakarta Pusat langsung merespons kejadian tersebut dengan membuka penyelidikan. Pihak kepolisian telah mengamankan rekaman CCTV dan beberapa saksi untuk mengidentifikasi pelaku dan motif serangan.
Tak hanya itu, pemerintah Indonesia turut mengecam keras tindakan kekerasan ini. Perwakilan pemerintah menyatakan bahwa setiap bentuk kekerasan harus diproses hukum secara tuntas dan pelakunya dimintai pertanggungjawaban sesuai aturan yang berlaku.
Dukungan dan Kecaman dari Publik
Kasus ini juga memicu reaksi dari aktivis masyarakat sipil dan tokoh publik. Banyak yang mengecam tindakan tersebut sebagai bentuk ancaman terhadap kebebasan berekspresi dan kerja aktivis di ruang publik. Beberapa kelompok menyebut serangan seperti ini sebagai upaya untuk membungkam suara‑suara kritis yang vokal dalam memperjuangkan hak dan keadilan sosial.
Sejumlah tokoh masyarakat juga terlihat mengunjungi korban di rumah sakit untuk memberikan dukungan moral dan mengecam aksi kekerasan tersebut.
Implikasi terhadap Aktivisme dan Demokrasi
Insiden penyiraman cairan berbahaya terhadap seorang aktivis HAM dianggap sebagai alarm penting tentang kondisi ruang demokrasi dan keselamatan para pembela HAM di Indonesia. Banyak pihak menyerukan agar kasus ini diusut sampai tuntas, termasuk mengungkap dalang di balik serangan serta memberikan jaminan keamanan kepada semua warga negara yang terlibat dalam kegiatan sosial dan advokasi.






