Presiden RI Joko Widodo menegaskan pada acara Rakornas Pertanian tahun 2017 bahwa tidak bisa lagi kita biarkan petani berjalan sendiri-sendiri. Rakyat harus diorganisir, petani harus diorganisir, kenapa korporasi bisa menjual produk dengan sangat murahnya? Karena skala ekonomi yang besar. Kenapa mereka bisa lebih efisien? Karena mereka memproduksi dalam jumlah massal. Dalam jumlah banyak, petani pun juga bisa seperti itu. Untuk melaksanakan arahan Presiden RI, BUMN hadir untuk mewirausahankan petani melalui Layanan Kewirausahaan Petani dan Digitalisasi Sistem Pertanian di Kabupaten Indramayu pada Kamis, 11 Januari 2018. (11/01)

Hadir dalam acara ini Menteri BUMN Rini M. Soemarno, Sekretaris Kementerian BUMN Imam A. Putro, Deputi Bidang Usaha Jasa Keuangan, Jasa Konsultan dan Survei Gatot Trihargo, Deputi Bidang Usaha Industri Agro dan Farmasi Wahyu Kuncoro, Direktur Utama PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) Alex J. Sinaga, Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) Achmad Baiquni, Direktur Utama PT Askrindo (Persero) Asmawi Syam, Direktur Utama PT Asuransi Jasa Indonesia (Persero) (Jasindo) Solihah, Direktur Utama PT Pupuk Indonesia (Persero) Aas Asikin Idat, Direktur Utama PT Permodalan Nasional Madani (Persero) (PMN) Parman Nataatmadja, Direktur Utama PT Pegadaian (Persero) Sunarso, Direktur Utama Perum Bulog Djarot Kusumayakti, Direktur Utama PT Sang Hyang Seri (Persero) (SHS) Syaiful Bahri, Plt. Direktur Utama PT Kliring Berjangka Indonesia (Persero) (KBI) Fajar Wibhiyadi, Direktur Utama PT Pertani (Persero) Wahyu, Wakil Direktur Utama PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Sulaiman A. Arianto, Direktur Utama PT Pupuk Indonesia Pangan Mamat A. Sowi, dan sejumlah Direktur BUMN serta pejabat daerah lainnya.

Menteri Rini menjelaskan bahwa melalui layanan kewirausahaan petani dan digitalisasi system pertanian diharapkan dapat mengatasi berbagai permasalahan seperti usaha skala kecil (Key players), tidak ada satu pun institusi yang punya otoritas atas value chain yang panjang, daya tawar lemah petani (main actors), serta insentif petani yang tidak fokus, tidak tepat, tidak berkelanjutan dan tidak cukup. “Selama ini komoditas pangan diproduksi secara terpecah-pecah dengan luas lahan yang kecil sehingga produksi pangan tidak produktif. Melalui penerapan digitalisasi system dan korporatisasi pertanian, BUMN hadir untuk mendorong peningkatan produktivitas pangan dan kesejahteraan petani kecil,”terangnya.

PT Sang Hyang Seri dalam hal ini berperan pada tahap Tanam dengan cara penyediaan benih sementara digitalisasi system pertanian kelompok tani (poktan) tersebut diinisiasi oleh PT Telkom Tbk bekerjasama dengan Pemerintah Daerah melalui empat siklus tahap yaitu Pratanam, tahap Tanam, tahap Panen serta tahap Pasca Panen yang pada setiap tahapan tersebut melibatkan BUMN lainnya serta Himpunan Bank Negara (Himbara).

instagram